Guru Sejati Mendidik Dengan Hati

Guru Sejati Mendidik Dengan Hati

Hujan turun deras pagi itu, mengguyur jalanan desa yang becek dan licin. Di antara derasnya air yang menetes dari atap seng, seorang lelaki paruh baya berjalan perlahan sambil menenteng payung tua yang sudah berlubang di ujungnya. Di tangannya, tergenggam erat sebuah map lusuh berisi lembar-lembar RPP, daftar nilai, dan beberapa gambar hasil karya anak didiknya. Langkahnya gontai namun pasti. Namanya Pak Sadimun, guru sekolah dasar di pelosok Desa Sukoanyar, yang telah mengabdikan diri selama lebih dari tiga puluh tahun.

Matahari jarang bersinar cerah di desa kecil itu. Sekolah tempat Pak Sadimun mengajar pun sederhana, bangunannya hanya tiga ruang kelas beratap genteng merah pudar, dindingnya retak di sana-sini. Namun bagi Pak Sadimun, tempat itu adalah “rumah kedua”, tempat ia menanamkan benih ilmu dan budi pekerti kepada generasi penerus bangsa.

 

  1. Guru yang Tak Pernah Menyerah

Setiap pagi, Pak Sadimun selalu datang paling awal. Ia membuka pintu kelas, menyapu lantai yang berdebu, lalu menata meja dan kursi agar tampak rapi. Meski usianya sudah menginjak 58 tahun, semangatnya tak pernah luntur. Kadang, ia membawa sapu lidi sendiri dari rumah karena sapu sekolah sudah rusak. “Guru bukan hanya mengajar, tapi juga memberi teladan,” ucapnya pelan setiap kali ada rekan muda yang melihatnya bekerja sendirian.

Hari itu, murid-muridnya datang satu per satu dengan kaki berlumpur. Sebagian tak memakai sepatu, sebagian lagi masih mengantuk karena membantu orang tua mereka di sawah sejak subuh. Namun begitu mereka melihat Pak Sadimun tersenyum di depan kelas, semua lelah seakan sirna.

“Assalamu’alaikum, Pak!” seru anak-anak serempak.

“Wa’alaikumussalam, anak-anakku. Mari kita mulai hari ini dengan doa, ya,” jawab Pak Sadimun lembut.

Tak ada proyektor, tak ada papan digital. Hanya papan tulis kayu dan kapur putih. Tapi di tangan Pak Sa, kelas selalu hidup. Ia pandai mengubah hal sederhana menjadi pelajaran bermakna. Suatu kali, ia mengajak murid-muridnya belajar pecahan dengan menggunakan ketupat buatan ibu-ibu di dapur sekolah. Kali lain, ia mengajarkan ekosistem dengan membawa mereka ke pinggir sungai.

“Belajar itu tidak harus mahal,” katanya sambil menatap anak-anaknya yang berlari kecil di tepian air. “Yang penting hatimu hadir, dan kamu mau berusaha memahami dunia di sekitarmu.”

 

  1. Anak Didik yang Membuatnya Bertahan

Dari puluhan murid yang pernah diajar Pak Sadimun, ada satu yang selalu ia ingat: Mahsun. Anak itu pendiam, jarang berbicara, dan sering datang ke sekolah tanpa sarapan. Ayahnya meninggal dalam kecelakaan, ibunya bekerja sebagai buruh tani. Mahsun sering duduk di pojok kelas, menatap kosong papan tulis.

Suatu hari, saat pelajaran berhitung, Pak Sadimun mendekati Mahsun yang termenung.

“Kenapa tidak menulis, Nak?” tanya Pak Sadimun lembut.

Mahsun hanya menunduk. “Saya nggak bisa, Pak. Saya bodoh.”

Pak Sadimun terdiam sesaat. Ia duduk di samping Mahsun, menatap lembaran kosong di buku anak itu. Lalu ia berkata pelan, “Tidak ada anak bodoh. Yang ada, anak yang belum menemukan caranya belajar.”

Sejak hari itu, Pak Sadimun selalu meluangkan waktu sepulang sekolah untuk mengajari Mahsun. Ia menggunakan biji jagung, batu kecil, bahkan daun pisang sebagai alat bantu hitung. Perlahan-lahan, wajah Mahsun mulai cerah. Ia mulai bisa menjumlahkan dan mengalikan. Hingga suatu hari, ketika Ujian Sekolah tiba, Mahsun berhasil meraih nilai Matematika tertinggi di kelas.

“Pak, saya bisa karena Bapak nggak pernah marah,” ucapnya sambil tersenyum kecil.

Air mata menetes di sudut mata Pak Sadimun. Ia tahu, itulah hadiah terindah yang bisa diterima seorang guru melihat muridnya percaya diri.

 

  1. Tantangan Zaman

Namun, perjalanan Pak Sadimun tak selalu mudah. Dunia pendidikan berubah cepat. Teknologi masuk ke pelosok desa. Sekolah-sekolah di kota memakai tablet, proyektor, dan internet. Sementara di SD tempatnya mengajar, sinyal ponsel saja sering hilang.

Beberapa guru muda mulai merasa putus asa. Mereka mengeluh soal fasilitas, gaji kecil, dan anak-anak yang semakin sulit diatur. Ada yang memilih pindah ke kota, ada pula yang berhenti total.

Suatu sore, kepala sekolah memanggil Pak Sadimun.

“Pak, kami dapat kabar dari dinas. Sekolah akan digabung karena jumlah siswa menurun. Mungkin tahun depan tidak ada lagi SD Negeri Sukoanyar.”

Pak Sadimun terdiam lama. Tangannya gemetar memegang map tugas. Ia menatap jendela, di luar sana tampak anak-anak bermain di lapangan berdebu sambil tertawa. Hatinya terasa sesak.

“Kalau sekolah ini ditutup,” ucapnya lirih, “di mana anak-anak itu akan belajar?”

Kepala sekolah menunduk. “Kami juga sedih, Pak. Tapi keputusan sudah turun.”

Malam itu, Pak Sadimun tak bisa tidur. Ia memandangi lembar foto-foto lama: wajah-wajah anak didiknya dari tahun ke tahun. Ada yang kini jadi guru, ada yang jadi petani, ada pula yang merantau ke kota. Semua pernah duduk di bangku kayu yang sama.

Ia tahu, perjuangannya belum selesai.

 

  1. GeMahsunn Sekolah Kampung

Beberapa hari kemudian, Pak Sadimun datang ke rumah kepala desa. Ia membawa map biru berisi proposal sederhana bertuliskan: “GeMahsunn Sekolah Kampung”.

“Pak Lurah,” katanya penuh semangat, “meski sekolah akan ditutup, anak-anak tetap harus belajar. Saya ingin membuka kelas belajar sore di balai desa. Gratis.”

Kepala desa terkejut. “Tapi, Pak Sadimun, Bapak sendiri sudah sepuh. Apa sanggup?”

Pak Sadimun tersenyum. “Saya tidak sendiri. Saya yakin masih banyak orang yang peduli.”

Kabar tentang rencana itu menyebar cepat. Beberapa pemuda desa ikut membantu. Ada yang membuat papan tulis dari triplek, ada yang meminjamkan tikar, ada pula yang mendonasikan buku. Bahkan ibu-ibu PKK datang membawa makanan ringan untuk anak-anak.

Minggu pertama, hanya tujuh anak yang datang. Mereka duduk bersila, menulis di atas papan kecil. Tapi semangat Pak Sadimun membara. Ia mengajar membaca, berhitung, dan menulis surat untuk orang tua. Ia juga menanamkan nilai-nilai kehidupan: kejujuran, tanggung jawab, dan rasa hormat pada guru.

“Ilmu bukan hanya dari buku,” katanya setiap kali kelas dimulai. “Tapi juga dari cara kita memperlakukan orang lain.”

Bulan demi bulan berlalu. Jumlah murid bertambah. Balai desa tak cukup menampung. Maka di bawah pohon mangga tua, Pak Sadimun membuat kelas terbuka tempat belajar di alam. Di sana anak-anak menulis di papan yang menempel di batang pohon, dan suara burung menjadi musik pengiring mereka.

 

  1. Ujian Seorang Guru

Suatu hari, Mahsun yang kini duduk di SMA dan sering membantu mengajar di kelas kampung itu menemukan Pak Sadimun pingsan di depan papan tulis. Wajahnya pucat, napasnya tersengal.

“Pak! Pak Sadimun!” seru Mahsun panik.

Guru tua itu dibawa ke Puskesmas. Dokter mengatakan ia terlalu lelah dan tekanan darahnya turun. Beberapa hari kemudian, Pak Sadimun dirawat di rumah. Meski tubuhnya lemah, pikirannya terus tertuju pada anak-anak.

“Bagaimana kelas sore, Mahsun?” tanyanya kepada Mahsun dengan suara parau.

“Tenang saja, Pak. Saya dan teman-teman teruskan,” jawab Mahsun sambil menahan air mata.

Pak Sadimun tersenyum. “Bagus. Ingat, mendidik bukan hanya tugas guru, tapi panggilan jiwa. Jangan pernah berhenti karena lelah. Berhentilah hanya kalau sudah selesai menanam kebaikan.”

Setelah dua minggu, kondisinya membaik. Tapi dokter menyarankan agar ia beristirahat penuh. Namun keesokan paginya, saat matahari baru muncul, Pak Sadimun sudah duduk di kursi panjang depan rumah, menulis sesuatu di buku catatan kecilnya. Di halaman pertama tertulis:

“Ilmu tanpa cinta hanyalah hafalan. Cinta tanpa ilmu hanyalah perasaan. Tapi ilmu dengan cinta itulah pendidikan sejati.”

 

  1. Hari Guru Terakhir

Tepat tanggal 25 November, seluruh warga desa berkumpul di balai desa. Spanduk bertuliskan “Selamat Hari Guru  Terima Kasih untuk Pengabdianmu, Pak Sadimun” terbentang lebar. Anak-anak tampil membacakan puisi, menyanyi, dan menampilkan drama pendek tentang perjuangan seorang guru di desa.

Mahsun memegang mikrofon dengan suara bergetar.

“Pak Sadimun mengajarkan kami bukan hanya membaca, menulis, dan berhitung. Beliau mengajarkan kami bagaimana menghargai kehidupan, bagaimana berjuang meski tak punya apa-apa, dan bagaimana menyayangi tanpa pamrih.”

Pak Sadimun yang duduk di kursi depan menunduk haru. Matanya basah. Ia tak pernah menyangka, perjuangan kecilnya berarti sebesar itu bagi banyak orang.

Lalu, seorang anak kecil maju membawa bingkisan sederhana sebuah buku tulis bergambar bunga. Di dalamnya tertulis:

“Untuk Pak Sadimun, guru kami yang baik hati. Semoga panjang umur dan selalu bahagia.”

Tepuk tangan menggema di seluruh ruangan. Tapi bagi Pak Sadimun, yang paling menyentuh adalah saat semua anak-anak berbaris, mencium tangannya satu per satu sambil berkata lirih,
“Terima kasih, Pak Guru.”

 

  1. Warisan yang Tak Pernah Hilang

Tahun berganti. Pak Sadimun akhirnya pensiun resmi. Namun, semangatnya tak padam. Setiap minggu, ia masih datang ke balai desa, duduk di bangku panjang sambil membaca buku atau menulis catatan kecil. Kadang, ia memberi nasihat kepada pemuda yang datang curhat soal hidup dan masa depan.

Suatu sore, Mahsun datang mengenakan pakaian dinas ASN. Ia kini resmi menjadi guru baru di SD yang dulu hampir ditutup. Pemerintah akhirnya membuka kembali sekolah itu setelah melihat gerakan pendidikan yang tumbuh di desa berkat Pak Sadimun.

“Pak,” ucap Mahsun dengan suara penuh haru, “saya di sini karena Bapak.”

Pak Sadimun tersenyum. “Tidak, Nak. Kamu di sini karena hatimu mau belajar dan berjuang. Guru hanya menunjuk jalan.”

Mahsun menunduk, menahan air mata. “Saya ingin meneruskan perjuangan Bapak. Mendidik dengan hati.”

Pak Sadimun memandang langit senja yang mulai berwarna jingga. “Kalau begitu, tugasku sudah selesai,” katanya pelan. “Satu guru boleh berhenti, tapi semangatnya harus tetap hidup di hati murid-muridnya.”

 

  1. Epilog: Surat dari Guru untuk Murid

Beberapa bulan setelah itu, desa kembali dikejutkan oleh kabar duka. Pak Sadimun meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya. Di meja belajarnya ditemukan sebuah surat dengan tulisan tangan yang rapi. Surat itu kini dibingkai dan dipajang di ruang guru SD Negeri Sukoanyar.

Untuk murid-muridku yang kucintai,

Jangan pernah berhenti belajar, bukan karena ujian, tapi karena hidup selalu memberi pelajaran baru.
Jadilah manusia yang menghargai ilmu, meski sekecil apapun.
Jangan hanya ingin pintar, tapi jadilah baik.
Karena dunia lebih butuh hati yang tulus daripada kepala yang penuh.

Guru sejati bukan yang dihormati karena pangkat, tapi yang dikenang karena kasihnya.
Jika kelak kalian menjadi apa pun guru, petani, atau pejabat ingatlah:
Bekerjalah dengan hati, karena di situlah letak kemuliaan manusia.

Salam penuh cinta,
Pak Sadimun.

 

Sejak hari itu, setiap tanggal 25 November, warga Desa Sukoanyar  memperingati Hari Guru dengan sederhana namun penuh makna. Mereka menanam pohon di halaman sekolah sebagai simbol cinta terhadap ilmu. Dan setiap kali angin berhembus melewati dedaunan, seolah terdengar suara lembut yang berkata:

“Teruslah mendidik dengan hati, meski dunia berubah.”

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *