Dari Kelas ke Rumah, dari Hati ke Hati: Anjangsana GTK MI Nurul Huda 1 Malang

Dari Kelas ke Rumah, dari Hati ke Hati: Anjangsana GTK MI Nurul Huda 1 Malang

Merajut Silaturahmi, Menebar Keberkahan

Kota Malang, 23 September 2026 , Usai rangkaian pembelajaran, para Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) MI Nurul Huda 1 Malang mengawali perjalanan anjangsana menuju kediaman Ibu Vina, salah satu guru madrasah. Menempuh jarak kurang lebih 6 km ke arah Kelurahan Arjowinangun, rombongan tiba sekitar 17 menit kemudian.

Anjangsana ini bukan sekadar kunjungan biasa. Ia adalah kegiatan rutin tiga bulanan yang menjadi sarana mempererat silaturahmi, merawat kekeluargaan, dan menghadirkan kebersamaan di antara para pendidik. Suasana hangat begitu terasa ketika GTK berkumpul di kediaman Bu Vina.

Di MI Nurul Huda 1 Malang, silaturahmi bukan sekadar agenda seremonial. Ia telah menjadi napas yang menghidupi seluruh denyut kelembagaan. Setiap pertemuan, setiap sapaan, dan setiap doa yang dipanjatkan bersama adalah wujud nyata dari nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi: ukhuwah islamiyah, kebersamaan, dan kepedulian.

Kegiatan anjangsana ini menjadi cermin bahwa madrasah bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga rumah bagi tumbuhnya kasih sayang antar sesama pendidik. Jarak 6 km bukanlah penghalang, melainkan bukti bahwa silaturahmi membutuhkan ikhtiar dan kesungguhan.

Acara diawali dengan pembacaan shalawat Maulid Diba yang dipimpin oleh Ustadz Wais Alkurni, dengan Ustadz Ifan Afandi sebagai pembawa acara. Di tengah lantunan shalawat, hadir momen penuh makna: bayi yang baru dilahirkan digendong keliling oleh ayahnya, lalu dimohonkan doa kepada seluruh hadirin. Sebuah tradisi yang sarat nilai, mengingatkan bahwa setiap kelahiran adalah amanah dan harapan bagi masa depan.

Ada beberapa nilai luhur yang senantiasa dijaga dan dirawat dalam setiap anjangsana GTK MI Nurul Huda 1 Malang:

Pertama, silaturahmi yang mengikat hati. Dalam Islam, silaturahmi bukan hanya memperpanjang umur, tetapi juga melapangkan rezeki dan menumbuhkan keberkahan. Anjangsana ini menjadi ikhtiar nyata untuk menjaga tali persaudaraan agar tidak terputus oleh kesibukan dan rutinitas.

Kedua, kebersamaan yang menguatkan. Sebagai sebuah keluarga besar, GTK MI Nurul Huda 1 Malang menyadari bahwa kekuatan madrasah terletak pada kebersamaan warganya. Suka dan duka dijalani bersama, termasuk dalam momen bahagia seperti kelahiran buah hati salah satu guru.

Ketiga, kepedulian yang menghadirkan empati. Menjenguk, mendoakan, dan hadir di tengah kebahagiaan saudara adalah wujud kepedulian yang tulus. Nilai ini menjadi fondasi terciptanya lingkungan kerja yang harmonis dan penuh kasih.

Keempat, doa yang mengiringi langkah. Setiap pertemuan tidak pernah lepas dari doa. Bayi yang baru lahir didoakan, keluarga yang dikunjungi didoakan, dan seluruh GTK saling menguatkan dalam doa. Inilah yang menjadikan anjangsana bukan sekadar pertemuan fisik, melainkan juga pertemuan hati dan ruh.

Usai pembacaan shalawat, Kepala Madrasah, Bapak Munir, menyampaikan sambutan. Beliau menuturkan bahwa kegiatan anjangsana telah berjalan bertahun-tahun, dari rumah ke rumah GTK. “Suatu saat kita nanti anjangsana di Probolinggo, juga Gresik,” ujarnya disambut tawa hangat para hadirin.

Tak lupa, beliau menyampaikan ucapan selamat kepada Bu Vina atas kelahiran sang buah hati. “Selamat kepada Bu Vina atas kelahiran pelanjut perjuangan. Semoga menjadi anak sholih yang senantiasa berbakti kepada kedua orang tua, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, serta berguna bagi bangsa dan negara,” pungkas Munir.

Anjangsana GTK MI Nurul Huda 1 Malang adalah bukti bahwa tradisi baik perlu dijaga, dan nilai luhur perlu dirawat. Di tengah arus zaman yang semakin cepat, kegiatan ini menjadi oase yang menyegarkan, mengingatkan bahwa di balik tugas mendidik, ada ikatan persaudaraan yang harus senantiasa dijaga.

Semoga silaturahmi yang terjalin semakin kokoh, kebersamaan yang terbangun semakin erat, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan semakin mengakar. Sebab, madrasah yang kuat adalah madrasah yang warganya saling menguatkan bukan hanya dalam bekerja, tetapi juga dalam berdoa dan mencintai.

(by Munir-Minusa)

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *