Di era serba digital seperti saat ini, kehidupan manusia hampir tidak bisa dipisahkan dari teknologi. Segala sesuatu dilakukan dengan cepat, praktis, dan efisien berkat kecanggihan digital. Kita belajar, bekerja, berdagang, hingga berinteraksi sosial melalui dunia maya. Dunia seakan berada dalam genggaman. Namun, di tengah derasnya arus digitalisasi ini, ada hal yang semakin tergerus yaitu adab dan etika.
Dunia Digital dan Tantangan Akhlak
Perubahan besar yang dibawa oleh teknologi memang memberi banyak manfaat. Anak-anak kini bisa belajar dengan mudah melalui video edukatif, aplikasi, dan media interaktif. Para guru dan orang tua pun dapat berkomunikasi dengan cepat untuk memantau perkembangan anak. Namun di balik kemudahan itu, muncul tantangan serius: lunturnya sikap sopan, empati, dan tanggung jawab moral dalam dunia digital.
Sering kita jumpai perilaku tidak beradab di media sosial: saling menghina, menyebar berita bohong, menjelekkan orang lain, atau berdebat tanpa etika. Padahal Islam telah menuntun umatnya untuk selalu berkata baik atau diam, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa kebebasan berbicara, termasuk di media sosial, tetap memiliki batas moral. Dunia digital bukan tempat tanpa aturan. Setiap kata yang kita tulis, setiap gambar yang kita unggah, bahkan setiap komentar yang kita tinggalkan, semuanya meninggalkan jejak digital yang mencerminkan kepribadian kita.
Akhlak di Ruang Maya
Menjadi beradab di dunia digital berarti mampu menempatkan diri secara bijak dalam setiap aktivitas online. Adab digital meliputi beberapa hal penting:
- Menjaga ucapan dan tulisan.
Hindari komentar kasar, menyebar kebencian, atau mempermalukan orang lain. Gunakan bahasa yang sopan dan santun sebagaimana kita berbicara langsung. - Tabayyun sebelum membagikan informasi.
Jangan asal menyebarkan berita atau gambar tanpa memastikan kebenarannya. Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti…” (QS. Al-Hujurat: 6).
Prinsip tabayyun sangat relevan di era digital agar kita tidak ikut menebar hoaks. - Menghargai privasi orang lain.
Tidak semua hal pantas dipublikasikan. Menyebarkan aib, foto pribadi, atau rahasia orang lain termasuk perbuatan yang dilarang dalam agama. - Bijak menggunakan waktu.
Banyak yang lalai karena terlalu lama bermain gawai, hingga melupakan ibadah, belajar, atau waktu bersama keluarga. Padahal waktu adalah amanah yang harus dikelola dengan baik. - Menjadikan teknologi sebagai sarana kebaikan.
Gunakan media digital untuk berdakwah, belajar, berkreasi, dan menebar manfaat. Rasulullah saw. bersabda,
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad).
Canggih Boleh, Tapi Jangan Kehilangan Adab
Kemajuan teknologi bukan alasan untuk kehilangan nilai-nilai luhur. Islam tidak menolak kemajuan, bahkan mendorong umatnya untuk berilmu dan berinovasi. Namun, ilmu tanpa adab akan melahirkan kerusakan. Imam Malik pernah berkata, “Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.”
Ungkapan itu sangat relevan di era digital ini. Anak-anak kini tumbuh dengan kemampuan teknologi luar biasa, tetapi tanpa bimbingan adab, mereka mudah terjerumus pada perilaku negatif: kecanduan gawai, kurang menghargai orang tua, dan abai terhadap norma sosial. Maka pendidikan akhlak harus berjalan beriringan dengan literasi digital.
Para guru dan orang tua memiliki peran penting untuk menjadi teladan dalam beradab digital. Anak-anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari apa yang mereka lihat. Jika orang tua bijak menggunakan media sosial, menahan diri dari komentar negatif, dan membatasi waktu layar, anak pun akan meniru sikap itu.
Etika Digital dalam Perspektif Islam
Dalam Islam, konsep adab mencakup hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia, dan alam sekitar. Ketika kita hadir di dunia maya, ketiganya tetap berlaku. Mengunggah konten bermanfaat termasuk amal baik, sementara menyebar keburukan dapat menjadi dosa. Oleh karena itu, dunia digital harus dijadikan ladang amal, bukan tempat maksiat.
Menulis status yang memotivasi, membagikan ilmu, atau sekadar mengingatkan teman untuk salat, semua bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah. Begitu pula menahan diri dari debat kusir dan hujatan adalah bagian dari jihad menahan hawa nafsu di dunia maya.
Sebaliknya, memposting hal yang sia-sia, menampilkan aurat, atau menebar kebencian akan merusak kehormatan diri dan menodai nilai iman. Maka, iman harus menjadi filter utama dalam setiap aktivitas digital.
Menjadi Muslim Digital yang Beradab
Era digital memberi peluang besar untuk berbuat kebaikan. Dengan satu klik, dakwah bisa tersebar luas; dengan satu pesan, semangat bisa dibangkitkan. Namun, di tangan yang salah, teknologi bisa menjadi sumber fitnah dan dosa.
Oleh sebab itu, mari kita menjadi pengguna digital yang beriman dan beradab:
- Menjaga tutur kata di dunia maya,
- Menghormati sesama pengguna,
- Menyebarkan konten positif,
- Serta menjadikan teknologi sebagai sarana ibadah dan amal saleh.
Karena sesungguhnya, kecanggihan tanpa adab hanyalah kesombongan, sedangkan adab tanpa teknologi tetap berharga di sisi Allah. Dunia boleh semakin modern, tetapi nilai-nilai moral dan akhlak mulia harus tetap menjadi kompas utama dalam kehidupan.
Teknologi bisa menaklukkan dunia, tetapi hanya akhlak yang bisa menaklukkan hati manusia.
Mari kita buktikan bahwa kita bukan sekadar generasi digital, tetapi generasi digital yang beradab dan beriman. (By Im-SyMINuhu1Mlg)

