Rapuhnya Sikap Peduli, Menghargai, dan Kolaborasi Pada Generasi Alpha

Rapuhnya Sikap Peduli, Menghargai, dan Kolaborasi Pada Generasi Alpha

Generasi Alpha (sering disingkat Gen Alpha) adalah generasi yang lahir mulai sekitar tahun 2010 hingga 2024. Mereka tumbuh dalam era digital yang masif: perangkat pintar, akses internet yang cepat, platform media sosial, hingga pembelajaran hibrid dan tantangan pandemi. Kondisi ini membawa potensi perkembangan yang besar, namun juga menghadirkan persoalan khusus—termasuk berkaitan dengan sikap peduli, menghargai, dan kolaborasi. Artikel ini akan mengulas mengapa sikap “peduli–menghargai–kolaborasi” cenderung rapuh pada Gen Alpha, faktor penyebabnya, dampak bagi pendidikan (termasuk untuk SD/MI) dan bagaimana guru serta orang tua dapat berperan memperkuatnya.

Mengapa dianggap rapuh?

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan pada Gen Alpha untuk memiliki tantangan dalam aspek sosial-emosional berikut: empati, interaksi nyata, kolaborasi fisik, penghargaan interpersonal.

  1. Ketergantungan teknologi & pengalaman sosial terbatas
  2. Dalam sebuah tinjauan literatur, disebut bahwa penggunaan teknologi oleh Gen Alpha dapat mengurangi kesempatan untuk pengembangan sosial-emosional dan meningkatkan risiko permasalahan kesehatan mental.
  3. Lingkungan pembelajaran yang semakin digital dan individualistik juga memunculkan bahwa mereka cenderung “lebih tertutup dan berperilaku lebih individual” dibanding generasi sebelumnya.

Karena itu, aspek peduli (yang memerlukan kepekaan terhadap orang lain), mengharga­i (yang memerlukan pemahaman dan penghormatan terhadap orang lain) dan kolaborasi (kerjasama nyata antar-anak) bisa terhambat.

  1. Gaya hidup yang sangat digital dan individu
  1. Sebuah tulisan menyebut bahwa Gen Alpha tumbuh dalam era “hyper-individualism” yang mempengaruhi ekspektasi mereka terhadap kehidupan dan sekolah.
  2. Dalam artikel “Leading the way for Generation Alpha” dari Cambridge University Press, dikemukakan bahwa generasi ini menghadapi “stress tingkat tinggi” akibat perubahan cepat dunia, sehingga kecerdasan emosional-sosial (social & emotional intelligence) menjadi penting.

Ketika interaksi tatap-muka, waktu bersama teman sebaya dan pengalaman kolaboratif fisik berkurang, maka kemampuan peduli, menghargai dan kolaborasi bisa melemah.

  1. Permasalahan pendidikan karakter dan kolaborasi
  • Penelitian tentang siswa dengan kebutuhan khusus menunjukkan bahwa meskipun teknologi bisa membantu, terdapat tantangan bagi guru dalam mempromosikan kolaborasi dan penghargaan sosial pada Gen Alpha.
  • Dalam konteks pendidikan di Indonesia, suatu artikel mengatakan bahwa untuk mencapai “Generasi Emas 2045”, kolaborasi semua pemangku kepentingan dan pengembangan domain sosial-emosional anak Gen Alpha sangat diperlukan.

Ini menunjukkan bahwa secara sistemik, ada kesadaran bahwa aspek karakter (termasuk peduli, menghargai, kolaborasi) masih perlu diperkuat.

Dampak bagi pendidikan dan kehidupan sehari-hari

Rapuhnya sikap peduli, menghargai dan kolaborasi pada Gen Alpha dapat berdampak sebagai berikut:

  1. Di lingkungan sekolah (SD/MI)
    1. Kurangnya empati teman sebaya dapat menyebabkan bullying, kurangnya tolong-menolong, atau siswa yang tidak merasa terhubung dengan teman.
    2. Kolaborasi proyek kelompok bisa menjadi kurang efektif karena anak kurang terbiasa bekerja bersama secara aktif dan menghargai kontribusi seluruh anggota.
    3. Guru dan orang tua harus bekerja ekstra dalam membangun budaya kolaboratif dan menghargai antar-anak (contoh: diskusi reflektif, kerja kelompok, tugas yang memerlukan interaksi nyata)
  2. Dalam pembentukan karakter
    1. Sikap menghargai orang tua, guru, teman, dan lingkungan bisa menjadi terancam jika anak terlalu sering berada dalam dunia digital yang soliter atau konsumtif.
    2. Rasa peduli terhadap lingkungan, sesama, dan komunitas bisa melemah jika anak tidak dilibatkan dalam aktivitas nyata (kegiatan sosial, kerja kelompok, gotong-royong)
  3. Dalam kehidupan masa depan
    1. Dunia kerja dan masyarakat semakin menuntut kemampuan kolaborasi, kerja tim lintas budaya, empati terhadap beragam orang. Jika Gen Alpha tidak kuat dalam aspek ini, mereka bisa tertinggal dalam soft-skills.
    2. Lingkungan yang sangat digital dan hiper-kompetitif bisa mendorong anak menjadi sangat individualistik, yang bisa mengurangi rasa tanggung jawab kolektif dan sinergi sosial.

Mengapa tetap ada potensi positif

Meskipun ada tantangan, Gen Alpha juga mempunyai potensi kuat yang bisa mendukung penguatan peduli, menghargai dan kolaborasi.

  1. Mereka sangat fasih teknologi, terbuka terhadap dunia, dan hidup dalam masyarakat yang semakin global. Ini memberi peluang kolaborasi lintas budaya, kepekaan terhadap isu global seperti lingkungan, keadilan sosial.
  2. Kesadaran akan kesejahteraan mental, inklusi, dan keberlanjutan lebih tinggi pada generasi ini. Sebagai contoh, riset menyebut bahwa 77 % remaja Gen Alpha menempatkan dukungan kesehatan mental sebagai prioritas.
    → Apabila diarahkan dengan baik, potensi ini bisa dimanfaatkan untuk memperkuat sikap peduli, menghargai dan kolaborasi.

Strategi penguatan untuk Guru & Orang Tua (termasuk di SD/MI)

Sebagai guru Al-Qur’an Hadits di MI maupun sebagai pendidik umum, berikut beberapa strategi yang bisa diterapkan:

  1. Intervensi sosial-emosional (SEL – Social and Emotional Learning)
    1. Integrasikan aktivitas yang menumbuhkan empati (misalnya: diskusi tentang perasaan teman, simulasi ‘apa yang saya rasakan jika…’, tugas berbagi).
    2. Ajarkan penghargaan: melalui refleksi rutin, penghargaan antar-siswa, tugas yang mengajak siswa mengenali kontribusi orang lain.
    3. Bangun kolaborasi nyata: tugas kelompok yang jelas, peran rotasi, tanggung jawab bersama, serta evaluasi kolaboratif.
    4. Gunakan teknologi secara bijak: meskipun Gen Alpha akrab teknologi, ajak mereka menggunakan teknologi untuk kolaborasi (misalnya proyek online antar-kelas) namun tetap seimbangkan dengan interaksi tatap-muka.
  1. Model oleh orang dewasa
  1. Guru dan orang tua harus menjadi teladan sikap peduli, menghargai dan kolaborasi. Anak-anak sangat belajar lewat pengamatan.
  2. Buat rutinitas “waktu tanpa layar” bersama keluarga, ajak anak dalam aktivitas nyata yang melibatkan interaksi sosial (misalnya kerja bakti kecil, mengunjungi tetangga, aktivitas gotong-royong).
  1. Konteks pembelajaran karakter dalam mata pelajaran
  1. Untuk mata pelajaran Al-Qur’an Hadits, materi seperti berbakti kepada orang tua, menghormati guru, tolong-menolong, kerjasama dalam kebaikan bisa dimasukkan aktif , jangan hanya teori tapi aktivitas.
  2. Contoh: siswa diberi tugas bekerjasama membuat video pendek atau poster tentang “sikap peduli kepada orang tua/guru/teman” lalu mempresentasikannya, atau membuat proyek kolaborasi antar-rbk (rumah belajar kecil) yang melibatkan tindakan nyata di sekolah.
  1. Pembatasan dan pendampingan penggunaan layar
  1. Meski generasi ini “lahir digital”, tetap penting mengatur waktu layar agar tidak menggantikan waktu interaksi sosial nyata. Penelitian menunjukkan bahwa pengalaman sosial fisik dan interaksi teman sebaya penting bagi pembelajaran empati.
  2. Ajak anak untuk refleksi: “berapa lama saya menggunakan gadget hari ini?”, “apa yang sudah saya lakukan untuk teman?”, “apa yang saya bantu orang lain hari ini?”

Jadi, sikap peduli, menghargai, dan kolaborasi pada Gen Alpha memang menghadapi tantangan nyata terutama karena lingkungan digital yang dominan, gaya hidup individual, dan terbatasnya pengalaman sosial nyata. Namun bukan berarti generasi ini “hilang” potensi untuk memiliki sikap positif tersebut. Dengan intervensi dini, penguatan karakter, pembelajaran kolaboratif yang nyata, dan teladan dari guru/orang tua, generasi ini dapat tumbuh menjadi individu yang tidak hanya unggul secara teknologi atau akademis, tetapi juga kaya akan empati, menghargai orang lain, dan mampu bekerja sama secara produktif.

Sebagai guru di SD/MI khususnya dalam konteks pendidikan Al-Qur’an Hadits,  guru berada di posisi strategis untuk menanamkan nilai-nilai peduli, menghargai, dan kolaborasi sejak dini melalui modul ajar, pembelajaran karakter, dan proyek kolaboratif yang nyata. Dengan begitu, rapuhnya sikap tersebut bisa ditekan, dan Gen Alpha di sekolah Anda bisa berkembang menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga matang secara sosial dan emosional. (By-Im-SyMinuhu1Mlg)

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *